Entry: Luapan Thursday, September 10, 2009



Kalo sesekali mengeluh boleh kan…. Biarpun aku tidak mengatakannya hanya menulisnya saja…. Supaya walaupun aku tak membicarakannya aku dapat membagi resah ini kepada huruf-huruf yang menari dan wadah kosong yang menunggu, seakan memaksaku untuk menyentuhnya…. Lagipula ini pun nanti akan jadi memori untuk mengingatkanku akan masa yang lewat. Bukan batu sandungan untuk melangkahkan kaki ini.

 

Sebenarnya ini bukan masalah besar tapi aku terganggu sekali. Jika manusia harus saling mengerti kenapa selalu hanya satu pihak yang berpikir begitu? Kalaupun dia melakukannya dia memilih kepada siapa. Setiap orang diatur, diberi tingkatan dan status yang berbeda dimana akan menentukan seberapa dalam kadar sikap mengerti yang harus diberikan. Apakah manusia dianggap penting oleh manusia lain apabila hubungannya lebih dekat, lebih bermanfaat, lebih menguntungkan? Seberapa pentingnya manusia itu ditentukan oleh manusia lain.


Menyedihkan. Semua manusia bilang punya hati, hati yang seperti apa sebenarnya.


Kemudian apa bedanya berbicara dengan hati, mendengarkan dengan hati daripada 


berbicara dengan ratio, mendengarkan dengan ratio. Mana yang dianggap penting?


Apakah artinya hati bagi manusia bila dia tak mengerti (hati) sesamanya. 


Bahwa manusia selalu melihat keluar dan bukan kedalam.


Mencari sesuatu diluar dirinya untuk memuaskan dirinya sendiri.


Menumpuk berjuta alasan untuk menipu orang lain dengan hatinya. 


Tidak pernah merasa cukup untuk berbagi.


Berbagi apa?


Bisakah dimengerti bukan hal-hal materi yang dicari manusia, pada dasarnya.


Tapi untuk dimengerti.... dengan hati...


untuk didengarkan.... dengan hati....


untuk diterima... dengan hati....


Bisakah manusia peka akan manusia lain waktu dia binasakan hatinya. 


Seberapa penting manusia lain bagimu?


Apakah aku penting bagimu?


Periksa dulu hatimu, kalau kau merasa punya.


 

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments